Selasa, 18 Desember 2012
Posts by : Admin
MATAHARI YANG TERBATAS
Terdengar kicauan burung-burung di balik jendela kamar seorang gadis belia yang sedang membersihkan dan merapikan ruangan pribadinya. Suara-suara riang itu selalu menemaninya dan melengkapi keindahan pada setiap pagi. Kawanan yang sedang bertengger di pepohonan itu seketika beterbangan karena terkejut saat gadis manis yang bernama Adelia itu membuka jendela kamarnya. Ia hirup udara segar dan menikmati hangatnya mentari pagi yang mulai menyinari seluruh penjuru alam raya. Kemudian…
Tok, tok ,tok… suara pintu diketuk.
Gadis itu menghampiri pintu dan membukanya, ibundanya terlihat di balik pintu.
“Mamah kira kamu masih tidur, Del.”, Sangka ibunya.
“Udah bangun dari tadi kok, mah. Udah bersih-bersih kamar malahan, hehe.” Jawab Adel sambil cengengesan.
“Itu baru anak rajin, ya udah sekarang kamu mandi terus siap-siap ke sekolah !” perintah wanita yang telah melahirkannya itu.
“Oke mah. Adel mandi dulu, jangan lupa segelas susu cokelat untukku !” pintanya seraya berlari ke kamar mandi.
..........................................................................................................................................................................
Gadis manis berhidung mancung yang bernama lengkap Adelia Dhefy Maharani itu adalah seorang siswi SMA yang sangat ceria. Jarang sekali kesedihan terlihat di raut wajahnya. Ia tak pernah mengeluh walaupun sedang dalam kesulitan dan selalu tampak bahagia serta berusaha membahagiakan orang-orang di sekelilingnya.
Selesai bersiap-siap, gadis itu segera menuju meja makan dan menikmati hidangan pagi itu. Seusai sarapan, Ia berpamitan dengan kedua orang tuanya untuk pergi ke sekolah. Seperti biasanya, Adel berangkat sendirian dengan menggunakan bus mini. Dia lebih suka seperti itu daripada harus diantar supir pribadi atau ayahnya.
Setiba di gerbang sekolah, Adel tertegun melihat temannya yang diantar pacarnya. “Hmm…kapan ya aku bisa kayak gitu? ” terbersit sebuah keinginan dalam hatinya.
Plok… Tiba-tiba sebuah tepukan kecil mendarat di pundak gadis itu, sehingga membuyarkan lamunannya.
“Woi…pagi-pagi udah ngelamun, ntar kesambet lho, Non! Hmm.. Hayo, ngelamunin apa?” canda Nasheefa sahabatnya .
“Nggak kok. Udah yuk masuk kelas!” ajaknya.
Bel tanda masuk pun berbunyi. Semua murid memasuki ruang kelasnya dan pelajaran pun dimulai ketika ibu guru tiba.
Tak terasa tiga jam pelajaran telah usai, bel pun berbunyi menandakan waktunya istirahat. Seluruh murid berhamburan keluar ruangan. Namun Adel dan Nasheefa masih tetap di dalam kelas.
“Oh iya Fa, siang ini bisa temenin aku ke toko buku nggak?”
“Siang ini ya? Duh… kayaknya nggak bisa deh Non. Soalnya aku harus nemenin nyokap belanja buat acara arisan di rumah besok.” Jelas sahabatnya menyesal. “Hmm…kenapa kamu nggak ajak kak Dhika aja?“ mencoba menyarankan.
“Huh.. tau kan, Kak Dhika tuh kuliah, pastinya dia sibuk dan nggak bisa nemenin aku Fa.” ucapnya terdengar agak sedih.
“Waduh…kamu tuh punya pacar kok kayak nggak punya sih?” Nasheefa merasa sebal pada pacar sahabatnya itu.
..........................................................................................................................................................................
Adel pun terdiam mendengar perkataan sahabatnya itu. Dia memang merasa sangat kesepian karena jarang bisa bertemu dengan kak Dhika, cowok yang sudah setahun ini dipacarinya. Laki-laki itu bernama Andhika Nugraha, seorang mahasiswa Teknik Elektro di ITB. Belum tentu seminggu sekali mereka bisa bertemu. Perasaan sedih pun menguasai hatinya, ya… dia benar-benar merindukan kekasihnya.
..........................................................................................................................................................................
Pada malam harinya kekasih yang dirindukan gadis itu menghubungi, sehingga perasaan sedihnya tak berlangsung lama. Sekalipun tak bertemu, paling tidak dengan mendengar suaranya rasa kerinduan itu dapat terobati . Mereka pun bercakap-cakap dan sesekali bercanda sehingga tawa lepas gadis itu keluar. Terkadang pacarnya sedikit menggoda dan membuat pipinya yang merah semakin merona. Tapi di ujung pembicaraan, pujaan hati gadis itu memberi kabar yang tidak menyenangkan. Kekasihnya harus pergi ke luar kota selama satu minggu untuk melakukan studi banding. Sehingga janji Dhika untuk menyambangi rumah Adel malam minggu besok harus dibatalkan. Padahal hari itu telah dinantikannya sejak lama. Lagi dan lagi kekecewaan yang didapat. Bukan hanya satu kali terjadi seperti ini, sudah berulang kali. Namun, Ia selalu berusaha berbesar hati dan menerimanya. Ia menyadari bahwa Dhika bukanlah mahasiswa biasa. Kekasihnya itu harus bekerja keras demi membiayai hidupnya beserta adik-adiknya dan harus belajar dengan tekun agar tetap bisa mempertahankan beasiswa yang didapat.
..........................................................................................................................................................................
Sudah dua hari berlalu sejak perbincangan malam itu, tapi tak ada kabar apa pun dari sang tambatan hati, Adel berusaha tetap tersenyum, Dia tak mau berpikiran buruk. “Mungkin kak Dhika memang sedang sibuk.” pikirnya dalam hati. Ia kesulitan tidur malam itu dan mendengarkan musik pun dilakukannya untuk membuatnya lebih fresh. Gadis itu baru bisa tidur pada tengah malam dan Ia pun terlelap dalam mimpinya yang indah.
..........................................................................................................................................................................
Malam berlalu, Adel kaget karena menyadari Ia bangun ketika matahari sudah naik dan ayam-ayam telah berhenti berkokok. Dia bangkit dari tempat tidur dan bergegas mempersiapkan diri.
“Mah, aku berangkat ya.” pamit Adel terburu-buru sambil berlari keluar rumah
“Nggak sarapan dulu, Sayang ?” Tanya ibunya berteriak.
“Nggak mah, udah siang. Ntar aku bisa telat ikut upacara.” Sahutnya
“Kalau kamu nggak sarapan, nanti pingsan lagi lho!” teriak ibunya lagi.
Namun Adel telah menghilang di balik pintu dan ibunya hanya bisa mendesah. Beberapa hari ini Adel terlihat susah makan, padahal sedang banyak kegiatan extra di sekolahnya. Ibunya khawatir dengan kesehatannya, karena sudah beberapa kali gadis itu pingsan di sekolahnya dan pulang diantar gurunya.
Seperti biasa setiap senin pagi diadakan upacara bendera. Adel berlari terengah-engah memasuki barisan paduan suara, karena dia bertugas pada minggu ini. Di tengah-tengah pelaksanaan upacara,
Brukk…
..........................................................................................................................................................................
Semua peserta upacara terkejut dan setiap pasang mata tertuju pada sumber suara.
Ternyata Adel pingsan, dengan segera teman-temannya membawanya ke UKS. Kali ini Ia dibawa ke Rumah Sakit atas rujukan dari dokter di UKS, karena dikhawatirkan kalau terjadi sesuatu yang serius padanya akibat darah yang keluar dari hidungnya.
Setibanya di Rumah Sakit, Adel segera ditangani dokter. Orang tuanya pun datang setelah dihubungi oleh pihak sekolah. Selang beberapa jam hasil tes laboratorium keluar dan kedua orang tuanya benar-benar terpukul mendengar bahwa putri semata wayangnya ternyata mengidap leukemia pada tingkat stadium akhir. Hal ini benar-benar sulit dipercaya karena Adel tidak pernah mengeluhkan sakit. Ibunya hanya bisa menangis.
Adelia koma selama beberapa hari, keadaannya semakin memburuk. Ibunya tak henti-hentinya menangis. Ayahnya bingung tidak dapat berbuat apa-apa. Kemudian Dhika pun dikabari mengenai keadaan Adel, berharap ada yang bisa dilakukan. Tanpa pikir panjang kekasih Adel itu pun meninggalkan studi bandingnya dan segera pergi. Sesampainya di ruangan inap, Dhika tertegun melihat kondisi kekasihnya, tubuhnya melunglai. Gadis itu ditatapnya lekat-lekat. Perlahan ia hampiri ranjang tempat Adel terbaring, lalu digenggamlah tangannya yang lemah erat-erat. Berjam-jam ia disana dan tidak ada tanda apa pun. Dhika takut, khawatir, cemas dan tak ada yang dia pikirkan kecuali harapan agar Adel cepat sadar. Do’anya terkabulkan. Gadis itu mencoba membuka kedua mata mungilnya.
“Kak… Kak Dhika, kapan datang ? Adel kangen.” Ia berusaha mengeluarkan suaranya meskipun parau.
“ Kakak nyampe sini tadi pagi, Sayang. Hmm.. kakak juga kangen Adel kok. Kangen banget malah.” ucap Dhika.
“Kak, Adel pengen ke pantai buat liat matahari terbit.” pintanya sedikit manja.
“Kamu kan masih perlu istirahat, sayang. Nanti aja kalau kamu udah sembuh baru kita ke pantai, janji dech.” bujuk sang kekasih.
“Kak, Adel itu cuma pusing aja. Jangan berlebihan gitu. Ayolah, kak !” rajuknya
..........................................................................................................................................................................
Dhika pun akhirnya memenuhi keinginan kekasih hatinya setelah mendapat ijin dari kedua orang tua Adel. Dhika membawa Adel dengan kursi roda hingga sampai di pantai. Di sana mereka menikmati indahnya malam yang bertabur bintang. Menjelang pagi, Adel meminta Dhika untuk menurunkannya dari kursi roda. Mereka pun duduk berdampingan di hamparan pasir putih. Lalu Adel menyandarkan kepalanya ke bahu Dhika.
“Jadi ingat pas waktu kakak nembak aku di sini.’ Adel tersenyum mengingat hal itu. “Hmm.. bentar lagi matahari terbit nih, pasti indah banget”
“Iya sayang. Tuh… mulai terbit. “
“Kak, maafin Adel, kalau nggak bisa bikin kakak bahagia. Makasih kakak udah hadir dalam hidup Adel. Adel sayang banget sama kakak. Tolong jagain mamah papah ya!”
“Apa? Kamu kok ngomongnya ngaco gitu!” Dhika terlihat kesal.
“Adel udah nggak bisa jagain mamah sama papah lagi. Pasti nanti mereka kesepian. Sering-sering main ke rumah ya kak, ajak adik-adik juga. Pasti mereka bakalan seneng banget.” Suaranya semakin melemah.
“Kamu ngomongnya makin aneh, kayak mau kemana aja.” raut wajahnya nampak ketakutan.
“Adel nggak kemana- kemana kok, kak. Adel masih tetap di sini.” ucapnya sambil memegang dada Dhika.
..........................................................................................................................................................................
Gadis itu tak melanjutkan kata-katanya, matanya terpejam. Dhika ketakutan. Ia panggil-panggil nama kekasihnya sambil menguncang-guncangkan bahunya. Dia semakin merasa ketakutan. Laki-laki itu mencoba tenang dan memeriksa nafasnya. Nafasnya sudah tak berhembus. Kekasih yang dicintainya itu ternyata benar-benar telah pergi meninggalkannya. Dhika langsung memeluk Adel erat-erat seolah-olah melarangnya pergi. Ia menitikkan air mata, merasa sangat menyesal karena tidak bisa mencurahkan kasih sayangnya. Sungguh dia tak pernah bermaksud tidak mengacuhkan kekasihnya seperti itu. Ia benar-benar mencintainya. Tapi kini apa dayanya? Semuanya terjadi begitu cepat hingga tak sempat terucap kata maaf dari bibirnya. Mungkin yang bisa dilakukannya sekarang hanyalah memenuhi permohonan terakhir sang kekasih hati, Adelia.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
By : RaeryChan and BebzGirl (karyaku dan sobatku) ^_^
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar